Risha, Riko, Rika atau Risba

PRAYA-Dinas Perkim Lombok Tengah, menilai alternatif rumah tahan gempa, yang direkomendasikan pemerintah pusat, memiliki kekurangan dan kelebihan. Misalnya, rumah instan sederhana sehat (Risha). Kalau panel dan perangkat lainnya lengkap, maka dengan cepat berdiri.
“Tapi kalau terbatas, maka kelebihannya, tidak bisa dirasakan warga,” keluh Kepala Dinas Perkim Loteng Lalu Firman Wijaya kepada Lombok Post, Sabtu (5/1) lalu.
Begitu pula misalnya, lanjut Firman dengan rumah instan konvensional (Riko). Rumah yang satu itu merupakan rumah pada umumnya dengan penguatan agar lebih tahan gempa.  Hanya saja, proses pembangunannya membutuhkan waktu lama.
Apalagi, diakuinya jumlah yang akan dibangun mencapai puluhan ribu orang, tersebar di 52 dusun di 22 desa di tiga kecamatan di Loteng. Kendala yang akan dihadapai, keterbatasan tukang.
“Begitu juga, rumah instan kayu (Rika). Harga kayu, luar biasa mahal,” sambung Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H Muhamad, terpisah.
Pilihan terakhir, kata Muhamad ada yang namanya rumah instan baja (Risba). Proses pembangunannya lebih cepat. “Risba ini, mirip dengan program bedah rumah di salah satu televisi nasional,” bebernya.
Untuk itu, pihaknya mempersilakan memilih rumah tahan gempa seperti apa, yang akan dibangun. Intinya, pemerintah sudah menyediaan anggaran. Sekarang, tergantung masyarakat. “Tolong percepat pembentukan kelompok masyarakat,” seru Muhamad.(dss/r2)
The post Risha, Riko, Rika atau Risba appeared first on Lombok Post.


Thursday January 01, 1970

local_offerevent_note January 8, 2019

account_box admin