Potret Buruknya Moral Kita!

Dua kasus tindak pidana kekerasan seksual di Lombok Barat (Lobar) dan Lombok Timur (Lotim) mengejutkan banyak orang. Pelaku yang berjumlah sembilan orang tersebut bertindak di luar nalar manusia. Menunjukkan tidak adanya rasa empati sesama manusia.
== ==
Lima  pemuda keluar dari sel tahanan Polres Lombok Barat (Lobar), Jumat (4/1). Mereka dikawal polisi bersenjata laras panjang. Kelimanya merupakan pelaku perampokan yang disertai  pemerkosaan.
Seluruh pelaku berasal dari Dusun Batu Putih, Desa Taman Baru, Kecamatan Sekotong, Lobar. Pelaku berinisial MY, 24 tahun; LD, 23 tahun; Ay, 24 tahun; MI alias J; dan FA, 19 tahun. Masih ada satu pelaku lainnya, yakni AZ, 40 tahun. Pelaku AZ diduga sebagai otak dari tindak pidana yang terjadi Desember 2018 lalu.
Kejadian berlangsung di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong. Kronologis kejadian, pada hari Senin 17 Desember 2018 lalu sekitar pukul 00.05 Wita, enam pelaku mendatangi rumah korban. Mereka berniat mencuri sejumlah barang berharga serta kendaraan milik korban. Kebetulan rumah pelaku berada di kawasan perbukitan dan agak jauh dengan pemukiman.
AY dan MY menjadi pelaku pertama yang masuk ke dalam rumah korban berinisil SM, 21 tahun. AY kemudian mengobrak-abrik ruangan dan mendapati satu buah handphone. Sedangkan MY yang masuk ke dalam kamar mendapati satu unit sepeda motor.
Korban sebenarnya mengetahui ada pencuri yang masuk. Dia juga sempat bersembunyi di bawah dipannya. Namun, ketika MY mengeluarkan motor Honda Scoopy, roda kendaraan tersebut melindas kaki korban.
”Korban menjerit kesakitan. Dari sana persembunyiannya diketahui pelaku,” kata Kapolres Lobar AKBP Heri Wahyudi.
Setelah mengetahui tempat persembunyian korban, pelaku melancarkan aksi bejatnya. Dua pelaku, yakni AY dan LD memperkosa korban yang ketakutan. Pelaku juga diketahui sempat memukul kakek dan nenek korban.
Aksi tersebut diulangi pelaku AZ kepada NR, tetangga SM yang merupakan korban pertama. Tidak saja melakukan perampokan, pelaku AZ juga memperkosa NR.
Para pelaku bisa saja hanya melakukan aksi pencurian biasa. Mereka punya pilihan untuk kabur setelah mengambil harta benda korbannya. Tetapi, mereka justru memilih untuk melakukan kejahatan lainnya, yakni pemerkosaan.
Psikolog Azizatul Adni mengatakan, konsep psikologi yang bisa menjelaskan perbuatan pelaku adalah konsep agresi. Pelaku menunjukkan perilaku kekerasan yang dapat merugikan orang lain. Seperti yang ditunjukkan pelaku AY, LD, dan AZ yang tidak saja mencuri, tetapi juga memperkosa.
”Kurangnya rasa empati yang menyebabkan munculnya perilaku agresi ini,” kata dia.
Selain rasa empati yang minim, perilaku agresi juga muncul akibat kondisi sosial serta kestabilan emosi. Pelaku menunjukkan itu dengan melakukan tindak pidana secara berulang-ulang.
”Mereka (pelaku) tidak bisa memahami reaksi dan respons emosi yang dirasakan korban dalam situasi tersebut,” ujar Adni.
Perilaku agresi lainnya ditunjukkan empat pelaku tindak kekerasan seksual di Lotim. Mereka berinisial AP, 28 tahun; MB, 23 tahun; dan SAS, 18 tahun asal Suralaga. Satu pelaku lainnya, yakni IR, 32 tahun berasal dari Kopang, Lombok Tengah.
Kapolres Lotim AKBP Ida Bagus Made Winarta sebelumnya menerangkan ke empat pelaku terkena kasus tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak. Ditambah tindak pidana kekerasaan fisik terhadap anak yang menyebabkan korban  berinisial E, meninggal dunia.
Polisi lebih dulu menangkap tiga pelaku, yakni AP, MB, dan IR. Setelah itu, pelaku SAS yang merupakan otak dari perbuatan bejat tersebut, diringkus polisi. Sebelum tertangkap, SAS sempat masuk daftar pencarian orang (DPO).
”DPO pelaku tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan korban E meninggal dunia telah terungkap,” kata Kasat Reskrim Polres Lotim AKP I Made Yogi.
Aksi bejat pelaku bermula ketika korban dijemput pacaranya SAS, untuk menonton sebuah acara. Setelah selesai, pelaku mengajak korban untuk menemaninya mengkonsumsi minuman beralkohol bersama tiga orang temannya.
Dalam kondisi mabuk, SAS sempat menyetubuhi korban di sebuah kebun di wilayah Dusun Sukamulia Praida, Desa Bagik Payung Timur, Suralaga. Bejatnya, pelaku SAS sempat menawarkan korban kepada tiga kawannya.
Korban tentu saja menolak. Ketika hendak diantar pulang dengan dibonceng IR, korban loncat dari motor. Akibatnya, korban mengalami luka di bagian kepala dan telinga kemudian pingsan.
Apa yang disebut Adni sebagai kurangnya rasa empati, ditunjukkan keempat pelaku. Dalam keadaan pingsan, pelaku membawa korban ke satu tempat dan disetubuhi secara bergiliran.
Setelah melancarkan aksi bejatnya, pelaku membawa korban ke Puskesmas Kalijaga. Pada saat dibawa, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Pelaku kemudian menyembunyikan perbuatan tindak pidananya dengan mengarang cerita.
”Pelaku mengarang cerita kalau korban ditemuakn di tengah jalan karena dikejar dua orang tak dikenal,” kata Kapolres Lotim.(wahidi akbar sirinawa/r2)
The post Potret Buruknya Moral Kita! appeared first on Lombok Post.

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi
Tuesday December 11, 2018

JAKARTA–Sistem zonasi sekolah akan membawa perubahan besar-besaran pada dunia pendidikan pada tahun 2109. Salah satunya adalah proses penerimaan peserta didik baru (PPDB). Siswa tidak perlu lagi datang dan mendaftar ke sekolah tujuan. Mendikbud Muhadjir Effendi

Sudenom Kembali Berulah
Thursday November 01, 2018

MATARAM-Sejak dibebastugaskan dari jabatan sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram H Sudenom dikabarkan tidak pernah ngantor. Belum diketahui apa yang menyebabkan ia tidak masuk. Padahal statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih melekat tugas

The post Sudenom Kembali Berulah appeared first on Blackdiamond Casino.

The post Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi appeared first on Blackdiamond Casino.

local_offerevent_note January 8, 2019

account_box admin