Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Menimba ilmu di benua biru, menjadi mimpi banyak anak-anak muda Bumi Gora. Namun, belajar di negeri orang tidak selalu mudah. Jauh dari orang-orang tersayang dan harus terbiasa dengan lingkungan baru. Seperti apa para mahasiswa NTB menaklukan Eropa?
 SIRTUPILLAILI, Polandia
————————————
SUHU tiga derajat celsius menyambut wartawan Lombok Post saat tiba Polandia. Memasuki awal Desember, sekujur benua Eropa memang begitu. Dibekap dingin yang menusuk-nusuk. Tak kecuali Polandia, negeri yang berada di jantung Benua Biru.
Dinginnya Bandara Warsaw Frederic Chopin menampar kulit bertubi-tubi. Tidak ada salju hari itu. Hanya dingin yang merasuk-rasuk hingga sumsum. Uap udara mengepul setiap kali mulut terbuka. Kering mencekik tenggorokan. Dan dalam beberapa jam, bibir terasa mengeras. Rasanya pecah-pecah.
Waktu baru menunjukkan pukul 16:20 waktu setempat, tapi hari sudah gelap. Sudah Magrib. Siang hari di Eropa memang lebih pendek pada musim dingin. Cahaya matahari baru nongol pukul 08:00 dan tenggelam lagi pukul 16:00. Macam jam kerja PNS di tanah air saja. Datang jam delapan, lalu pulang jam empat sore.
Pohon di sepanjang jalan Kota Warsawa hanya berupa ranting yang menjalar. Daunnya berguguran termakan dingin. Gerimis disertai tiupan angin membuat tubuh semakin menggigil. Serasa terkurung di dalam lemari es raksasa.
Bagi warga setempat, suhu tiga derajat dianggap sudah mendingan. Beberapa hari sebelumnya, bahkan suhu di Warsaw mencapai minus 13. Ya ampuun…!
Toh, bagi orang Indonesia, suhu tiga derajat tetaplah ekstrem. Maklum, kita terbiasa dengan suhu rata-rata 27-30 derajat celsius. Karenanya, empat lapis pakaian plus jaket harus dipakai untuk melindungi diri dari rasa dingin.
Dan soal cuaca inilah yang menjadi ujian pertama yang harus diatasi mahasiswa Indonesia yang datang belajar ke Eropa. Jika gagal menaklukan alam, bisa-bisa mereka tidak bertahan lama. Sebab, situasi lebih ekstrem bisa saja terjadi.
Hampir semua mahasiswa asal NTB mengalami hal itu. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan suhu dingin yang kadang-kadang sangat ekstrem. Terlebih Polandia, yang lebih dekat dengat kutub utara bumi.
Umar Mubdi, salah seorang mahasiswa asal NTB yang kuliah di Collegium Civitas menuturkan, ketika pertama kali tiba di Polandia suhu masih 15 derajat celsius. Suhu itu terasa sangat dingin baginya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Eropa. Bersama rombongan mahasiswa lainnya, mereka ramai-ramai memakai jaket tebal, syal, tutup kepala, dan sarung tangan.
”Tapi teman-teman PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang menjemput waktu itu bilang suhunya sejuk,” tutur Umar, heran.
Ia juga terperangah. Di suhu seperti itu orang-orang di bandara hanya mengenakan jaket biasa. Malah suhu 15 derajat celsius pun dianggap sejuk. Belakangan ia baru tahu warga di Warsawa terbiasa dengan suhu di bawah lima derajat celsius. Bahkan minus.
Meski awalnya cukup kaget dengan perubahan cuaca, namun seiring berjalan waktu ia mulai terbiasa. Dua bulan di Polandia, Umar sudah bersahabat dengan cuaca super dingin itu. Sekarang, suhu di atas lima derajat celsius baginya tidak terlalu dingin.
Pun demikian, tubuh tetap saja rawan drop. Terutama bila cuaca teramat ekstrem sementara aktivitas perkuliahan tengah padat-padatnya. Untuk menjaga daya tahan tubuh suplemen lain biasanya ia minum. Bagi yang tidak minum alkohol, minuman penghangat bebahan jahe sangat manjur di tengah cuaca dingin.
Beruntung, sejauh ini cuaca ekstrem sama sekali tidak mengganggu proses belajar para mahasiswa NTB di Polandia. Sebab di kampus, semua ruangan sudah dilengkapi penghangat. Bila ingin merasakan suasana hangat, mereka bisa langsung masuk ke dalam ruangan.
Dani Alfatwari, mahasiswa NTB lainnya yang ditemui Lombok Post di Vistula University mengaku, sebelum berangkat ke Polandia mereka sudah menyiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem. Bahkan sebelum berangkat, ia mengaku sudah tidak sabar ingin merasakan sensasi dingin di Eropa.
”Rasa penasaran dengan dingin memberikan sensasi dan saya menikmatinya,” kata mantan Ketua BEM FKIP Universitas Mataram itu.
Sama seperti rekan-rekannya yang lain, awalnya memang ada culture shock karena perbedaan cuaca dengan daerah tropis seperti Indonesia. ”Tapi alhamdulillah bisa diatasi,” kata pemuda yang bisa dipanggil Dani itu.
Mia Rizkiana pun sama. Mahasiswa asal Kota Mataram itu harus berjuang beradaptasi dengan perbedaan cuaca. Tapi seiring waktu, ia mulai menyesuaikan diri dengan cuaca setempat.
”Yang penting pakai baju hangat. Kalau pas jadwal (kuliah) padat, diimbangi dengan vitamin juga,” ujarnya.
Beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting. Bila tidak mampu membiasakan diri dengan cuaca dingin, kesehatan bisa terganggu. Akhirnya proses belajar bisa ikut terganggu dan sulit konsentrasi.
Negara-negara di Eropa sendiri memiliki empat musim, yakni musim semi antara Maret-Mei, dimana udara sejuk dan bunga bermekaran. Kemudian musim panas pada Juni – Agustus, lautan biru di musim panas menjadi daya tarik tersendiri.
Juga ada musim gugur di akhir September dan awal November. Pada musim ini daun mengunging dan berguguran, biasanya musim gugur menjadi musim paling romantis. Terakhir adalah musim dingin, terjadi pada November dan Desember. Sensasi udara dingin dan butiran salju turun turun pada musim ini. Bagi orang Indonesia, turunya salju adalah yang ditunggu-tunggu, karena suasana itu tidak ada di negara tropis.
Rindu yang Menggebu
Tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan. Belajar di negeri orang juga harus siap-siap menahan rasa rindu. Meninggalkan keluarga dalam waktu lama bukan perkara mudah. Terutama untuk mereka yang sudah berkeluarga.
Seperti Mega Nisfa Makhroja, 28 tahun, mahasiswa NTB lainnya yang ditemui Lombok Post di kampus Collegium Civitas. Perempuan itu berjalan pelan menuruni anak tangga gedung Istana Kebudayaan dan Sains atau Palace of Culture and Science di pusat Kota Warsawa.
Gedung yang dibangun tahun 1955 itu memiliki ketinggian 237 meter atau 778 kaki. Bangunan itu merupakan salah satu gedung pencakar langit di Eropa. Di lantai paling atas, wajah Kota Warsawa bisa terlihat jelas. Gedung itu kerap dijuluki sebagai Eighth Sister karena memiliki kaitan dengan tujuh gedung pencakar langit Stalinis di Moskow, Rusia.
Palace of Culture and Science kini dijadikan pusat berbagai perusahaan, lembaga publik, pentas seni, drama, musik, olahraga, serta universitas, lembaga ilmiah dan otoritas akademi ilmu pengetahuan Polandia. Di gedung itu pula mahasiswa Collegium Civitas belajar. Termasuk mahasiswa asal NTB yang baru dua bulan dikirim ke tempat itu.
 Sore itu, gerimis turun dan hari mulai gelap. Mega Nisfa nampak riang menyambut rombongan tim beasiswa NTB yang datang berkunjung bersama para rektor. Namun ia tidak bisa berjalan cepat. Sebab, di dalam perutnya bersemayam cabang bayi.
Dia tengah hamil empat bulan. Usia yang sangat rawan bagi kandungan. Di usia kehamilan itu, seorang ibu hamil biasanya tengah bermanja-manja pada suami, ngidam ini dan itu.
Tapi semuanya harus dilupakan Mega Nisfa. Ia sadar kini tengah berada di negeri orang. Dia tidak bisa bertemu setiap saat dengan suami, Hirzurrahman yang tinggal di Sekarbela, Kota Mataram. Ongkos pulang pergi ke Polandia tidak murah. Untungnya ia tidak pernah ngidam yang aneh-aneh.
”Selama di Polandia tidak pernah ngidam yang parah. Paling sambal tomat dan lalapan. Tapi bisa beli di toko Asia dan restoran Indonesia,” tuturnya.
Mega tidak hanya meninggalkan suami, tetapi juga anaknya Gaiz Alwafa yang masih berusia 2,5 tahun. Karena itu, belajar ke Polandia bukan keputusan yang mudah baginya.
Keputusan itu penuh pengorbanan. Seorang ibu terasa berat meninggalkan putra yang masih butuh kasih sayang. Terlebih ia sedang mengandung dua bulan. Suami dan keluarga pun cemas. Tapi tekadnya menimba ilmu ke Eropa meluluhkan segalanya.
”Alhamdulillah keluarga mendukung, mereka mengantar saya sampai bandara,” tuturnya.
Meski berat menahan rindu pada suami dan anak. Tapi ia berusaha bertahan semampunya. Suka duka pasti ada, tapi niat untuk belajar tidak pernah surut. Di Collegium Civitas ia mengambil studi master International Peace and Conflict Studies. Ia berharap lulus dengan nilai maksimal, bisa berkarir, sukses dan membanggakan NTB.
”Sampai sekarang semuanya lancar-lancar, saya tidak pernah drop,” katanya.
Untuk melepas rindu, setiap saat ia berkomunikasi dengan suami melalui pesan singat atau video call WhatsApp. Bila kangen berat sama anak, dia memperbanyak salat dan membaca Alquran agar lebih tenang.
”Atau bisanya nulis-nulis biar lebih produktif,” katanya.
Mega sendiri sudah menulis buku berjudul “The Power of Mak-Mak” sebelum berangkat ke Polandia.
Dengan usia kehamilan yang terus bertambah, tidak mungkin bagi Mega pulang dalam waktu cepat. Dan rencananya akan melahirkan di Polandia. Sang suami pun rencananya menyusul ke Polandia dan mencoba peruntungan mendapatkan beasiswa yang sama.
Bila lulus, itu akan menjadi kado terindah baginya. Sang suami bisa menemaninya saat melahirkan nanti.
”Mudahan dia lulus,” katanya penuh harap. (*/bersambung/r8)

Lowongan Kerja Fresh Graduate SMA/SMK Sederajat PT. Reska Multi Usaha Terbaru
Sunday December 02, 2018

Lowongan Kerja PT. Reska Multi Usaha – PT. Reska Multi Usaha adalah salah satu anak perusahaan PT. Kereta Api Indonesia (persero) yang berdiri pada 2003, fokus bisnis perusahaan ini adalah melaksanakan dan menunjang kebijakan dan program PT Kereta

The post Lowongan Kerja Fresh Graduate SMA/SMK Sederajat PT. Reska Multi Usaha Terbaru appeared first on Blackdiamond Casino.

The post Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1) appeared first on Lombok Post.

Senggigi Diprediksi Normal Tahun Depan
Friday October 26, 2018

GIRI MENANG-Kunjugan wisatawan ke Senggigi masih sangat rendah. Ini membuat para pelaku usaha mulai resah. Dengan kondisi ini, pakar pariwisata Poltekpar NTB Dr Farid Sadi meminta para pelaku wisata menyiapkan harga khusus untuk menarik wisatawan.

The post Senggigi Diprediksi Normal Tahun Depan appeared first on Blackdiamond Casino.

local_offerevent_note December 11, 2018

account_box admin