Bunuh Diri kok Hobi

Sepanjang 2018, nyaris tiada bulan yang dilalui tanpa kasus bunuh diri di NTB. Korbannya remaja dan dewasa. Alasannya aneka rupa. Mulai dari putus cinta hingga hal sepele lantaran tak tahan akan bau badan dan tak tahan dimarahi orang tua. Ada yang depresi, dan ada pula yang pendek akal setelah gagal masuk perguruan tinggi. Harap dicatat, bunuh diri bukanlah solusi. Amit-amit kalau dijadikan hobi.
———————————
POHON mangga di halaman surau itu sedang tak berbuah. Di bawahnya terdapat sebuah bangku persegi kayu berlapis karpet merah tua. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah bangku kecil. Senin (3/12) lalu, bangku itu menjadi tempat M Sopian (35) berpijak saat mengikatkan tali dari potongan kain. Sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di bawah pohon mangga.
Pemuda Dusun Sandubaya, Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya itu kata orang mengalami gangguan jiwa. Ia ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa oleh warga.
“Almarhum sebenarnya tidak gila. Dia waras. Beberapa hari sebelum mati sempat dzikir dan azan di surau,” kata Aisah, warga setempat yang kali pertama menemukan Sopian.
            Beredar rumor kalau beberapa hari sebelum ia bunuh diri, Sopian mengaku kesepian. Aisah mengatakan kedua orang tuanya telah tiada. Tak cukup dengan kehilangan itu, semua saudaranya berada di luar daerah. Ia benar-benar tinggal seorang diri.
Aisah merangkum dugaan warga lainnya, kemungkinan besar bunuh diri yang dilakukan Sopian disebabkan oleh rasa sepi tersebut. “Ini adalah sembilan malamnya. Sayang, orang-orang hanya dzikir tiga malam saja. Setelah itu surau ini sepi sekali. Tidak ada yang berani datang,” terang Aisiah dari balik pagar surau.
Seperti warga lainnya, Aisiah mengaku tak berani memasuki halaman surau. Sampai-sampai, bangku yang digunakan Sopian pun belum berani digerakkan. “Semua orang takut,” katanya.
Sebelumnya, masih di Lombok Timur, M Abdi Zanhari, 24 tahun, warga Kampung Damarata, Dusun Paokmotong Selatan, Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik, juga gantung diri dengan menggunakan ikat pinggang di rumahnya. Hal itu terjadi 22 November lalu.
Rina yang merupakan teman SD Abdi menceritakan rumor yang beredar di desanya. “Katanya karena tidak jadi menikah,” terang Rina.
Tentu tak ada yang tahu pasti penyebab keinginan bunuh diri tersebut. Sebab Abdi tak meninggalkan sepatah kata pun pertanda keinginan mengakhiri hidupnya. Ia hanya menyisakan tubuh yang tak bernyawa. Ditambah keterangan hasil visum kepolisian. Memastikan ia meninggal karena bunuh diri.
Di Lotim, kasus bunuh diri pertama yang terjadi dalam rentang Agustus – Desember terajdi pada M Hilmi, 22 tahun. Pemuda asal Lingkungan Jorong, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Lotim juga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri pada 21 Agustus lalu.
Ibu Korban, Titin menjelaskan kejadian naas yang terjadi sekitar pukul 12.30 Wita tersebut. “Sepulang salat zuhur berjamaah di musala, saya temukan dia sudah tiada,” kata Titin kepada Lombok Post.
Ia sendiri tidak mengetahui sama sekali penyebab mengapa putra keduanya tersebut memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Terakhir ia melihat Hilmi masih terlihat seperti biasa saja pada sekitar pukul 10.00 Wita. Menurut Titin, putranya mungkin memendam banyak persoalan yang tidak ia berani sampaikan.
“Saya tidak tahu sama sekali. Karena dia adalah sosok yang tertutup dan pendiam,” terang Titin.
Adapun kejadian tersebut dilakukan korban di depan dapur yang berada di halaman samping rumahnya. Saat itu kondisi rumah sekitar memang sepi karena kebanyakan berada di tenda pengungsian.
“Kalau ada satu saja orang yang melihatnya, pasti dia tidak jadi melakukannya,” sesal Titin.
Sementara itu, salah satu teman dekat korban M Agus Riyadi mengatakan terakhir kali bertemu satu malam sebelum kejadian. Kata Agus, korban tidak mengatakan apapun terkait masalah yang dihadapi. Akan tetapi ia hanya mengatakan ingin tidur tapi tidak bisa terpejam.
            “Terakhir itu saja yang dia katakan,” tutur Agus.
Depresi Paling Dominan
             Semua tahu bahwa nyawa itu mahal. Tak ada yang sebanding di dunia ini. Namun, kasus-kasus bunuh diri di atas, ternyata membuktikan bahwa ada di antara kita yang melihat nyawa tiada harganya.
Selang sehari dari kasus Kasus M Sopian misalnya. Muncul kasus bunuh diri di Selagala, Kota Mataram. Pendi, ditemukan tergantung di pohon nangka, di areal persawahan Lingkungan Tegal, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram.
Lalu pada Bulan November, selain kasus kematian Abdi di Lombok Timur. Ada pula kasus bunuh diri yang menimpa Karniawati, 26 tahun, warga Desa Duman, Lingsar, Lombok Barat.
Jika dihitung-hitung, kasus bunuh diri sepanjang tahun ini memang banyak. Hanya pada Januari, September dan Oktober, kasus bunuh diri alpa. Selebihnya, di setiap bulan kasus bunuh diri selalu ada. Bahkan bukan hanya satu. Tapi lebih.
Memang ada yang berhasil digagalkan. Seperti misalnya di Dompu. Dalam catatan kepolisian di sana, sepanjang tahun ini ada enam kasus bunuh diri di sana. Dua bisa diselamatkan.
Bagi psikolog Azizatul Adni, banyak hal yang memicu seseorang untuk bunuh diri. Salah satu yang paling mempengaruhi adalah depresi.
”Dari beberapa riset dan penelitian, faktor depresi yang paling dominan,” kata dia.
Depresi yang dialami seseorang, jika dibiarkan tanpa penanganan serius, bisa berakhir pada tindakan bunuh diri. Korban merasa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah yang sedang dirasakan dan dialami.
Akibatnya, bunuh diri menjadi tindakan final yang diputuskan seseorang. Tujuannya, tentu ingin terbebas dari tekanan atau masalah yang dialami.
Pemicu terjadinya depresi atau lazim dikenal dengan stressor dalam ilmu psikologi, dipicu dari beragam faktor. Bisa dari kegagalan pendidikan, ekonomi, hingga urusan asmara.
Jika di dunia kedokteran dikenal istilah imun atau daya tahan tubuh, di Psikologi dikenal dengan istilah resiliensi. Artinya, kemampuan seseorang untuk beradaptasi atau tetap teguh di tengah kondisi yang sulit.
Masing-masing individu, kata Adni, mempunyai tingkatan resiliensi yang berbeda. Karena itu, ada individu yang mengalami banyak kegagalan, tetapi mampu bertahan dan melewatinya. Sebaliknya, ada pula individu yang mendapat satu masalah, tetapi bisa langsung down secara mental.
”Jadi langsung mengalami stres. Muncul tekanan lain, lama-lama bertumpuk dan menjadi bom waktu, hingga akhirnya memutuskan bunuh diri,” ujar dia.
Sementara Ketua Ikatan Konselor Indonesia NTB Suhartiwi menjelaskan ada banyak penyebab seseorang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Di Amerika kata dia, angka bunuh diri tinggi. Tapi justru terjadi pada mereka yang berpendidikan. “Nah, akan berbeda dengan masyarakat umum,” kata Tiwi kepada Lombok Post.
            Menurut Tiwi, keinginan bunuh diri pada masyarakat umum lebih banyak disebabkan oleh faktor internal. Tidak seperti mereka yang berpendidikan. Faktor eksternal sangat mempengaruhi juga. Karena itu, ia menerangkan pentingnya memantau perilaku keluarga, teman, kerabat yang berubah.
“Jika sebelumnya dia periang lalu jadi pemurung akut, itu perlu didalami. Sama juga dengan yang pendiam, tapi jadi lebih pendiam lagi. Atau mengurung diri berhari-hari dalam kamar,” terang Mahasiswa program doktoral bimbingan dan konselor Universitas Negeri Padang ini.
Hal Sepele Bisa Memicu
Selain hal serius macam depresi, ternyata bunuh diri bisa pula disebabkan oleh hal-hal sepele dan tak masuk akal. Direktur RSJ Mutiara Sukma dr Elly Rosila Wijaya mengaku pernah menemukan kasus bunuh diri yang penyebabnya hanya karena masalah bau badan. Ya. Hanya karena bau tubuh tersebut, seseorang nekat mengakhiri hidupnya.
            “Orang yang seperti itu sudah merasa hopeless, pesimis, rendah diri, kurang percaya diri, merasa tidak punya masa depan,” kata Elly.
Dia menjelaskan, orang dengan gangguan depresi berat, bisa jadi memiliki rasa halusinasi dalam dirinya. Karena gangguan depresi berat sudah masuk dalam kategori gangguan psikotik. Orang depresi biasanya halusinasinya sesuai dengan suasana hatinya.
Berdasarkan pengalaman klinisnya dengan pasien, hal yang sesuai dengan suasana hati itu terjadi pada mereka yang biasa mengatakan, ‘udahlah lo memang nggak ada gunanya’, ‘mendingan lo mati aja’, atau ‘kamu memang banyak salah, dosamu tidak terampuni.’ Dan masih banyak lagi.
Kalimat-kalimat seperti itulah yang biasanya memicu gejala-gejala seseorang bisa mengalami depresi berat. Kemudian muncul ide untuk bunuh diri saja. Karena itu kata Elly, mereka yang kedapatan mengalami depresi, mesi mendapatkan penanganan dan pemeriksaan.
Sebab, pada saat seseorang sudah mengatakan, ‘lebih baik aku bunuh diri saja,’ itu merupakan sebuah warning dan orang tersebut harus diperhatikan.
“Meski itu hanya candaan, tetapi hal itu sudah ada di dalam pikirannya,” jelasnya.
Cara tersebut merupakan penggambaran apa yang ada didalam hati dan pikirannya. Meski itu hanya bercanda atau guyonan belaka. Bisa dilihat dari ekspresinya memperlihatkan raut keputusasaan.
Karenanya, Elly sangat menekankan jika pada era sekarang ini, pemeriksaan kesehatan mental harus dijadikan prioritas oleh setiap orang. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Terkadang, seseorang tidak menyadari, saat dilingkupi dengan berbagai macam pikiran yang bisa memicu stress, bisa mengarah pada tingkat tinggi dan jatuh pada kondisi depresi.
“Misalnya merasa gagal, merasa kepala terasa sudah penuh dengan berbagai macam aktivitas pekerjaan. Kemudian mulai memikirkan hal-hal negatif, berarti sudah ada tuntutan secara emosional,” jelas Elly.
Makanya, pemeriksaan kesehatan tidak hanya sebetas check-up  fisik saja. Tetapi juga diarahkan kepada kesehatan mental. Karenanya, dia sangat menyayangkan, masih adanya stigma saat seseorang memeriksakan kesehatan mentalnya ke RSJ, maka dinilai mengalami gangguan jiwa.
Padahal bukan seperti itu. Keberadaan RSJ bukan untuk mereka yang mengalami ganguan jiwa berat atau orang yang sudah dalam kondisi depresi akut tetapi yang bagi semua orang.
Bukan Solusi
Dari sisi Agama Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia NTB Prof H Saiful Muslim menegaskan bahwa bunuh diri bukanlah solusi. Jangan dikira, bunuh diri adalah akhir dari persoalan. Namun itu bisa menjadi pintu bagi persoalan besar yang menanti.
“Bunuh diri jelas tidak dibenarkan dalam agama,” tandasnya.
Memang beban hidup semakin hari kian berat. Tetapi jalan terbaik saat semua permasalahan hidup sudah menumpuk, Saiful menyarankan untuk berserah diri kepada Sang Pencipta. Ini dilakukan sebagai benteng pertahanan agar seseorang tidak mengambil jalan pintas, untuk mengakhiri segala macam persoalan yang ada.
Semua permasalahan yang hadir dalam hidup, sebaiknya kata dia dikonsultasikan. Dibicarakan pada orang-orang tertentu yang bisa dipercaya. Sehingga bisa mendapatkan nasihat.
Ia berpesan pada orang tua, agar selalu mengawasi dengan ketat tentang apa yang terjadi pada anak-anaknya. Baik itu dalam pergaulan keseharian, tingkah laku, tata bicara, sikap dan semacamnya. Orang tua diharapkan bisa memandu kehidupan anak-anaknya, apalagi sampai lalai.
Karena saat anak-anak dibiarkan sendiri, tidak diajak komunikasi atau dijauhi, itu bisa menambah beban pikiran yang dapat memicu tindakan bunuh diri.
“Kita harus ajak dialog, kita harus berikan nasehat tetapi caranya juga harus lemah lembut,” tandasnya. Disesuaikan dengan karakter anak. Karena kalau tidak maka akan berontak dan bisa fatal.
Terutama pendidikan agama saat ini juga sangat penting. Selalu dan saling mengingatkan jika Allah Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Pemurah dan Maha Segalanya, yang tidak akan memberikan cobaan hidup melebihi batas kemampuan.
Saiful bahkan menekankan, komunikasi dua arah antara anak dan keluarga perlu ditingkatkan. Jangan sampai anak merasa sendiri, mengurung diri bahkan menjadi depresi hanya karena gara-gara kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat, dalam menghadapi permasalahan yang sedang menimpanya.
Tidak hanya keluarga. Masyarakat terutama tokoh masyarakat dan tokoh agama juga sudah saatnya sekarang, ikut berperan aktif memberikan nasehat, memberikan kajian-kajian agama dan semacamnya, agar selalu mendekatkan diri dengan sang Pencipta.
Bisa Dicegah
Senada dengan MUI, Psikolog Azizatul Adni memastikan bisa dicegah. Meski depresi merupakan suatu gejala yang sukar dilihat secara kasatmata. Namun, bukan berarti tidak ada gejala awal yang bisa disadari orang-orang terdekat.
Misalnya, adanya perubahan perilaku pada induvidu. Orang yang mengalami depresi kerap berperilaku di luar kebiasannya. Dari yang semula ceria, bisa berubah murung dan pendiam.
”Ada juga yang menarik diri dari interaksi sosialnya, itu bisa jadi salah satu tanda,” terang Adni.
Namun, gejala-gejala depresi tidak selalu muncul di akhir-akhir hari individu yang memutuskan bunuh diri. Adni menyebut, perubahan perilaku bisa muncul beberapa hari atau bahkan dalam hitungan bulan, sebelum seseorang mengambil tindakan nekat mengakhiri nyawanya.
”Tidak pasti sehari (sebelum bunuh diri) ada perubahan perilaku. Bisa jauh hari sebelum tindakan itu,” ucap psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini.
Karena itu, peran orang terdekat dari individu sangat vital dalam pencegahan kasus bunuh diri. Mereka harus mampu mengenali masalah apa yang menimpa saudara, sahabat, orang tua, hingga teman.
”Ini tanggung jawab kita juga. Agar lebih aware dan meningkatkan kesadaran,” tuturnya.
Adni mengatakan, sebelum terjadi bunuh diri, beberapa individu biasanya muncul suicidal ideation atau ide dan cara untuk mengakhiri hidupnya. Suicidal ideation munci di kala korban tengah sendiri tanpa adanya perhatian dari orang sekitar.
”Itu pentingnya kita memberi perhatian. Cara yang paling sederhana itu dengan mengobrol, menanyakan kabar,” katanya.
”Terlihat sepele, tapi dampaknya besar. Bisa membuat individu merasa diperhatikan dan suicidal ideationnya teralihkan,” sambung Adni.
            Suhartiwi menambahkan, orang tua perlu mewaspadai hal yang dia sebut dengan pubbing atau suntuk sendiri dengan gadget. Karena dampak negatif pubbing adalah meniadakan orang lain dalam kehidupan. Kebiasaan seperti itu tidak menutup kemungkinan akan menutup akses orang tua untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada anaknya.
“Orang tua harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan anak. Selama ini kasus bunuh yang terjadi tidak diketahui orang tua,”  ujarnya.
            Ia menerangkan, jika anak sudah SMA, orang tua bisa memposisikan diri sebagai teman bagi anak-anaknya. Bila perlu teman dekat. Sehingga jika ada perubahan yang terjadi, maka orang pertama yang mengetahui hal tersebut adalah  mereka sebagai orang tua. Bukan orang lain.
Selain pentingnya peran orang tua, Suhartiwi menerangkan guru di sekolah juga memilki peran.  Kata Tiwi, guru tidak hanya mengajarkan satu tambah satu dua. Tetapi harus bisa juga menjelaskan kenapa bisa seperti itu. Begitu juga dalam pelajaran ilmu sosial, agama, dan budaya. “Intinya komunikasi yang baik,” tegas Tiwi.
Pemerintah Jangan Abai
Sementara itu, bagi Kriminolog Universitas Mataram Dr Muhammad Natsir, bunuh diri merupakan masalah kepribadian. Dipicu karena beban hidup yang terlalu berat sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan diri.
”Bunuh diri ini ibarat jalan pintas untuk lebih cepat mengakhiri beban hidup. Juga dipicu karena menjauhkan diri dari ajaran tuhan,” kata Natsir.
Meski dipicu masalah kepribadian, bukan berarti pemerintah lepas tangan. Kata Natsir, pemerintah harus hadir secara serius untuk menanggulangi kasus bunuh diri. Bentuknya bisa beragam, seperti memenuhi kebutuhan rohani dan materi.
”Harus hadir pemerintah melindungi masyarakat yang mengalami krisis moral dan sosial ekonomi,” ujar dia.
Sayangnya, kasus bunuh diri cenderung diabaikan pemerintah dan juga aparat penegak hukum, khususnya mengenai dampak kedepannya.
Bukti tidak adanya perhatian untuk kasus bunuh diri terlihat pada ketiadaan jumlah peristiwa yang dicatat jajaran kepolisian. Tidak masuknya peristiwa bunuh diri, karena polisi menganggap hal tersebut bukan merupakan tidak pidana.
Bukan Budaya Sasak
            Sedangkan dari sisi adat dan budaya Sasak, bunuh diri sama saja dengan mendahului kekuasaan Allah SWT. Itu sebagaimana tertuang dalam lontar tapel adam, atau lontar yang membicarakan asal muasal manusia. Karena itu tindakan yang sangat terlarang.
            Kalau ada yang melakukannya dan atau sudah terjadi, kata budayawan Sasak HL Muhammad Putrie, maka sama saja melanggar pituah dan pituduh leluhur. Di Lombok Tengah, kasus yang satu itu jarang terjadi, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kecuali, dalam kondisi gangguan jiwa saja.
            Biasanya, menurut Putrie bunuh diri dilakukan karena terhimpit utang piutang, kondisi ekonomi, urusan keluarga hingga asmara. Persoalan itu, seringkali muncul di wilayah perkotaan. Memang warga Loteng merasakannya, namun tidak sampai mengakhiri hidup dengan tragis.
            Seperti di Lombok Tengah, di Lombok Barat, kasus bunuh juga disebut sedikit. Kasatreskrim Polres Lobar AKP Priyo SUhartono mengakui hal tersebut kepada Lombok Post. “Sangat sedikit,” kata dia.
Secara umum, data kasus bunuh diri memang tidak diketahui persisnya. Sebab, memang ada yang tidak dilaporkan ke pihak kepolisian. Itu sebabnya, Lombok Post yang menelusuri data kasus bunuh diri di NTB ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda NTB serta Biro Ops Polda NTB, tak menemukan data kasus bunuh diri.
Terlepas dari itu, Kabid Humas Polda NTB AKBP Komang Suartana mengatakan, setiap masyarakat yang menemukan peristiwa bunuh diri, harus segera melaporkan ke petugas kepolisian. Tidak diperkenankan untuk mendekati jenazah yang berpotensi menyebabkan rusaknya tempat kejadian perkara.
”Lapor segera. Karena, nanti akan ada permintaan visum dari kepolisian untuk mengetahui penyebabnya,” tandas Suartana. (dit/tih/cr-yun/dss/ton/r8)
The post Bunuh Diri kok Hobi appeared first on Lombok Post.

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)
Wednesday December 12, 2018

Studi di luar negeri bukan hanya soal belajar di kelas, diskusi, dan membaca buku. Tapi juga menyangkut pola hidup, makan, ibadah, dan kebiasaan lain yang menuntut penyesuaian. Merasakan hidup menjadi minoritas dengan segala keterbatasan ternyata

Bunuh Diri kok Hobi
Wednesday December 12, 2018

Sepanjang 2018, nyaris tiada bulan yang dilalui tanpa kasus bunuh diri di NTB. Korbannya remaja dan dewasa. Alasannya aneka rupa. Mulai dari putus cinta hingga hal sepele lantaran tak tahan akan bau badan dan tak

The post Bunuh Diri kok Hobi appeared first on Blackdiamond Casino.

The post Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2) appeared first on Blackdiamond Casino.

local_offerevent_note December 12, 2018

account_box admin