Menjadi Inspirasi Bagi Siswa-Siswi Dalam Berkarya

Indra mendapat kebahagiaan tersendiri saat menjadi guru seni dan budaya. Meski hasil melukis saat menjadi seniman lebih besar dari gaji guru honorer. Lantas manakah profesi yang lebih mendapat tempat di hatinya? Guru atau Seniman? Berikut Laporannya.
Fatih Kudus Jaelani, Selong
————————————–
Sebagian besar sarjana pendidikan seni dan budaya akan dihadapkan oleh dua pilihan besar. Guru yang menjadi seniman, atau seniman yang menjadi guru. Dua pilihan itu mengingatkan Indra pada pertanyaan dosennya di kampus dulu. Dengan senyum kecil, ia menjelaskan pertanyaan itu kepada Lombok Post.
Pilihan tersebut sepertinya akan mendapat jawaban sesuai dengan di mana ia sedang berada. Indra mengatakan menjadi seniman di Lombok belum menjanjikan secara ekonomi. Minimnya apresiasi masyarakat terhadap karya seni rupa menjadi satu dari sekian banyak alasan yang dimilikinya.
“Belum lagi melihat tanggung jawab kepada ‘sponsor utama’ yang menguliahkan saya,” kata Indra.
Sponsor utama yang dimaksud adalah orang tuanya. Menurut Indra, masyarakat di lingkungannya belum memandang melukis sebagai sebuah pekerjaan. “Kalau tidak mengajar, saya dikira pengangguran,” ujarnya.
Untuk apa mendengar kata orang. Tapi beban itu muncul ketika melihat sponsor utama bertanya-tanya. Kurang lebih itulah yang membuat pelukis muda dari Terara ini memilih membeli sepatu kulit, celana kain, dan kemeja untuk dikenakan setiap pagi ke sekolah.
Menurut Indra, hal serupa juga terjadi pada beberapa temannya. Taruh saja seperti Hasbullah yang merupakan sarjana pendidikan bahasa dan sastra indonesia di Universitas Hamzanwadi Selong. Gelar sarjana pendidikan mau tak mau memanggilnya untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari di bangku kuliah.
Tapi apakah Indra merasa terpaksa setiap kali beranjak ke sekolah? Ia menggelengkan kepala. Justru menurutnya ada kebanggaan tersendiri ketika ia mampu mengembangkan bakat-bakat peserta didiknya. “Apalagi jika melihat siswa yang saya ajarkan berhasil memenangkan lomba sampai tingkat nasional. Itu sering terjadi. Kebahagiaannya di sana,” terang Indra.
Dalam satu bulan, Indra selalu mendapat tawaran melukis.  Harga lukisannya terendah Rp 300 sampai 500 ribu, dan tertinggi Rp 3 sampai 5 juta per lukisan. Jumlah tersebut tentu cukup tinggi dibanding gaji sebagai guru honorer. Akan tetapi, menurut Indra, jika melihat dari sisi ekonomi, menjadi guru jauh lebih menguntungkan.
“Meskipun banyak, tapi tidak tentu datangnya. Kalau gaji guru kan sudah pasti. Belum lagi melihat masih kurangnya apresiator di Lombok ini,” katanya.
Antara seniman yang menjadi guru atau guru yang menjadi seniman, Indra memilih guru yang seniman. Artinya, ketika menjadi seniman, hal yang dilakukan akan berbeda dengan menjadi seniman pada umumnya. Tidak hanya berkarya, tapi juga bergerak. Salah satunya adalah bergerak untuk menumbuhkan minat masyarakat pada karya seni. Khususnya seni rupa.
Tapi bukankah ini yang harus dimiliki seorang guru? Bisa mengajar sekaligus menjadi pelaku. Jadi ketika mencontohkan, ia tidak susah mencari karya orang lain. “Itu juga menjadi inspirasi dan motivasi tersendiri bagi siswa,” ujarnya. (tih)
The post Menjadi Inspirasi Bagi Siswa-Siswi Dalam Berkarya appeared first on Lombok Post.


Thursday January 01, 1970

local_offerevent_note November 2, 2018

account_box admin